Pantun Atui Khas Bahasa Ocu

RANDAI dan Pantun Atui merupakan kesenian yang sangat perlu dilestarikan dan mendapatkan perhatian dari seluruh masyarakat yang ada di Kabupaten Kampar. Karena, Randai dan Pantun Atui sudah ada sejak awal tahun 50-an.

Randai dan Pantun Atui pada zaman dulu sangat digemari oleh para orang tua. Mereka selalui menampilkan kesenian ini di setiap acara.  “Saya akan jelaskan apa-apa saja tentang Randai dahulu baru Pantun Atui. Randai adalah theater rakyat yg ada di kabupaten kampar sejak awal thn 50-an, dan dimainkan pada lapangan terbuka dengan membawakan cerita/dongeng lama seperti: hikayat silancang anak durhako, putri lindung bulan, magek manandin dan rambun kasian. Yang ada saat ini adalah Group Randai Tuo telah  membawakan cerita kehidupan manusia dgn problemnya masa kini,” ujar Syamsul.MK.

Untuk jumlah pemainnya, berjumlah sekitar 15 sampai 20 orang. Sedangkan musik penggiring adalah calempong, rebab, gendang, dan sunai. Sementara kostum yang dikenakan pemain randai tuo, pada umumnya berwarna hitam, hanya tokoh dalam cerita yang diberikan aksesoris dan atribut tertentu sesuai perannya. Randai tuo saat ini masih ada di Kecamatan Kampar, Bangkinang Barat dan  XIII Koto Kampar.

“Pantun Atui adalah sastra lisan yg termasuk jenis musik vokal. Pantun atui artinya pantun seratus, terdiri dari seratus gugus pantun. Untuk satu gugus ada lima buah pantun. Pantunnya bersajak empat, lima dan enam dalam seuntai. Dan bahasa yang digunakan adalah bahasa Ocu dengan dialeg Bangkinang,” katanya.

Syamsul juga menambahkan, Pantun Atui dibawakan oleh beberapa orang lelaki dengan irama tertentu serta berisikan pantun-pantun nasib, pantun kasih dan pantun nasehat. Hingga sekarang Pantun Atui masih ada di Bangkinang dan pada thn 50-an keatas kelompok-kelompok kecil pemuda desa mengisi waktu senggang dengan bermain kata-kata sajak, dan mengekspresikan jiwanya yang bergelora.

“Sang pemuda mabuk kepayang dalam gelombang asmara jatuh cinta pada seorang gadis. Tradisi ini terus berkembang dari sekedar bermain-main pantun menjadi tradisi yang diangkat dan disebut Pantun Atui. Berikut ini beberapa buah contoh Pantun Atui :

Talintang Pawuo Di Tajau
Tatambek Di Muagho Polam
Bukan Do Bintang Nan Mangasau
Sibonsu Babilang Malam

Malam Ko Malam Ka Oso
Sa Oso Pogang Suaso
Tapogang Boandagh Sabua
Dek Kito Jolong Biaso
Pogang Pitawuo Nan Sabua

Babua Sitampui Badak,
Dimakan Anak Buong Daun
Adiok Manawuo Padi Masak
Kami Nan Makan Juluong Tahun

Satahun Duduok Baladang
Ambiok Jo Lai Den Lambuongkan
Satahun Duduok Bagadang
Banyak La Osai Den Tangguongkan

Buwong Banamo Morak Leman
Duduok Bakawan Date Batang
Toguoh Toguoh Pogangkan Iman
Cobaan Banyak Nan Kan Datang

“Tampak seperti diatas ini adalah sebuah contoh dari Pantun Atui,” kata Syamsul. (Arief)

Sumber : www.pekanbaruexpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s